
Teknik memperbesar atau memperkecil ketakutan akan kematian inilah bagian dari teror. jadi terorisme itu adalah manajemen atau politik kematian. Bukan kematian yang menjadi tujuan utamanya, melainkan ketakutan yang intens dan sedemikian rupa di ruang publik.
Keheningan negeri yang mulai damai mendadak terkoyak. Pesta demokrasi yang baru saja mempertontonkan kesuksesannya di mata dunia, meski di sana-sini, masih ada kecurangan dan kekurangan, ternodai. Bom meledak kembali, belum jelas siapa pelakunya.
Akibat ledakan bom itu, setidaknya sembilan orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka. Tentu saja, tragedi ini menyentak nurani dan menyembulkan tanda tanya besar bagi seluruh anak bangsa. (Dari tragedi Bom JW Marriot di Indonesia).
Mengapa di negeri yang konon akhlak dan tabiat anak bangsanya ramah, sopan santun, amat religius dan bahkan sangat anti kekerasan, masih saja ada orang-orang atau kelompok masyarakat yang begitu gampang menggunakan bom (baca : teror) sebagai alat untuk meraih kepentingannya.
Puing-puing rerntuhan bangunan akibat ledakan bom yang cukup dahsyat itu memang sudah mulai rapi kembali. Demikian halnya, suasana batin & psikologis masyarakat perlahan-lahan tenang kembali. Tetapi dampak ledakan bom itu meruyak kemana-mana. Bukan lagi masalah kematian maupun hancurnya bangunan yang ditakutkan, melainkan kepanikan, kecemasan laten, dan traumatik akan menjangkiti masyarakat.
Hal ini bisa terjadi akibat makin maraknya opini yang berkembang pasca ledakan bom. Demikian liberalnya informasi dan opini yang mewarnai media massa,terus mencekoki masyarakat. Sementara polisi belum berhasil mengungkap tuntas siapa sejatinya pelaku peledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton itu.
Keadaan ini makin ironis, ketika ada pihak-pihak yang mengelaborasi tragedi bom. Terorisme itu, menjadi alat speklasi guna mencapai kepentingan politiknya. Pro-kontra atas pernyataan Presiden SBY yang membeberkan serangkaian peristiwa, bukan rumor, bukan gosip tapi laporan intelijen, sekurang-kurangnya malah menimbulkan pertanyaan besar bagi rakyat akar rumput.
Akibat ledakan bom itu, setidaknya sembilan orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka. Tentu saja, tragedi ini menyentak nurani dan menyembulkan tanda tanya besar bagi seluruh anak bangsa. (Dari tragedi Bom JW Marriot di Indonesia).
Mengapa di negeri yang konon akhlak dan tabiat anak bangsanya ramah, sopan santun, amat religius dan bahkan sangat anti kekerasan, masih saja ada orang-orang atau kelompok masyarakat yang begitu gampang menggunakan bom (baca : teror) sebagai alat untuk meraih kepentingannya.
Puing-puing rerntuhan bangunan akibat ledakan bom yang cukup dahsyat itu memang sudah mulai rapi kembali. Demikian halnya, suasana batin & psikologis masyarakat perlahan-lahan tenang kembali. Tetapi dampak ledakan bom itu meruyak kemana-mana. Bukan lagi masalah kematian maupun hancurnya bangunan yang ditakutkan, melainkan kepanikan, kecemasan laten, dan traumatik akan menjangkiti masyarakat.
Hal ini bisa terjadi akibat makin maraknya opini yang berkembang pasca ledakan bom. Demikian liberalnya informasi dan opini yang mewarnai media massa,terus mencekoki masyarakat. Sementara polisi belum berhasil mengungkap tuntas siapa sejatinya pelaku peledakan bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton itu.
Keadaan ini makin ironis, ketika ada pihak-pihak yang mengelaborasi tragedi bom. Terorisme itu, menjadi alat speklasi guna mencapai kepentingan politiknya. Pro-kontra atas pernyataan Presiden SBY yang membeberkan serangkaian peristiwa, bukan rumor, bukan gosip tapi laporan intelijen, sekurang-kurangnya malah menimbulkan pertanyaan besar bagi rakyat akar rumput.
Masyarakat yang sudah jenuh menunggu penjelasan dan pencerahan atas tragedi terorisme itu, justru dibingungkan oleh pernyataan-pernyataan spekulatif tak berujung. Dan sangat boleh jadi, kondisi inilah yang memang menjadi salah satu tujuan terorisme.
Bunuh satu orang dan buatlah sejuta orang ketakutan, itulah tujuan terorisme.
Teror memang menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman terhadap orang, kelompok tertentu atau bahkan terhadap publik guna meraih tujuan tertentu, dan biasanya tujuan politik.
Seribu orang, sejuta orang atau berapapun jumlahnya merupakan wilayah sasaran teroris. Wilayah ini bisa diperluas atau dipersempit seberapa teroris mau. Wujud teror bisa berupa kekerasan terhadap pribadi, properti publik / milik negara, atau terhadap lawan-lawan politik/negara untuk mencapai atau mempertahankan supremasinya.
Seribu orang, sejuta orang atau berapapun jumlahnya merupakan wilayah sasaran teroris. Wilayah ini bisa diperluas atau dipersempit seberapa teroris mau. Wujud teror bisa berupa kekerasan terhadap pribadi, properti publik / milik negara, atau terhadap lawan-lawan politik/negara untuk mencapai atau mempertahankan supremasinya.
Secara sederhana, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dan The Grolier International Dictionary, setiap perbuatan menakut-nakuti, baik berupa pernyataan, penggalangan opini, kekerasan atau pembunuhan bisa dikategorikan perbuatan teror. Teror selalu berhubungan dengan kematian. Sebab kematian merupakan ketakutan universal.
Hampir semua orang takut akan kematian, kecuali bagi orang-orang yang sedang memikirkan kematiannya. Misalnya, kematian diyakini sebagai misi suci guna mencapai kebahagiaan abadi. Ketakutan akan mati memang bisa saja dilenyapkan, tetapi bisa juga diperbesar.
Teknik memperbesar atau memperkecil ketakutan akan kematian inilah bagian dari teror. jadi terorisme itu adalah manajemen atau politik kematian. Bukan kematian yang menjadi tujuan utamanya, melainkan ketakutan yang intens dan sedemikian rupa di ruang publik.
para teroris bekerja lewat technology of fear, dramatisasi kematian. Oleh karena itu, terorisme selalu membutuhkan penonton. Hancurnya bangunan hotel JW Marriot dan RITZ Carlton, mayat-mayat yang bergelimpangan, hanyalah adegan-adegan kekerasan yang sengaja dipertontonkan oleh teroris.
Juga ribuan mayat yang bergelimpangan di Afghanistan dan irak akibat serangan tentara AS, hanyalah figur-figur atau adegan-adegan dalam teater kematiannya, bukan tujuan teror itu sendiri. Sasaran mereka adalah manusia-manusia hidup, masyarakat yang diharapkan menjadi penonton "teater" itu.
Para teroris bekerja penuh rahasia, sarat selubung, menggunakan seribu wajah dibelakang ruang publik untuk menciptakan efek-efek diruang publik pula. Oleh karena itu, teror tak pernah diketahui siapa pelaku sejatinya. Teror adalah teror, teror bisa menakutkan siapa saja, tak peduli sekuat apapun dan sebesar apapun supremasinya.
Demikian artikel ini kami buat, semoga menjadi bahan pertimbangan yang layak bagi pembaca
Hampir semua orang takut akan kematian, kecuali bagi orang-orang yang sedang memikirkan kematiannya. Misalnya, kematian diyakini sebagai misi suci guna mencapai kebahagiaan abadi. Ketakutan akan mati memang bisa saja dilenyapkan, tetapi bisa juga diperbesar.
Teknik memperbesar atau memperkecil ketakutan akan kematian inilah bagian dari teror. jadi terorisme itu adalah manajemen atau politik kematian. Bukan kematian yang menjadi tujuan utamanya, melainkan ketakutan yang intens dan sedemikian rupa di ruang publik.
para teroris bekerja lewat technology of fear, dramatisasi kematian. Oleh karena itu, terorisme selalu membutuhkan penonton. Hancurnya bangunan hotel JW Marriot dan RITZ Carlton, mayat-mayat yang bergelimpangan, hanyalah adegan-adegan kekerasan yang sengaja dipertontonkan oleh teroris.
Juga ribuan mayat yang bergelimpangan di Afghanistan dan irak akibat serangan tentara AS, hanyalah figur-figur atau adegan-adegan dalam teater kematiannya, bukan tujuan teror itu sendiri. Sasaran mereka adalah manusia-manusia hidup, masyarakat yang diharapkan menjadi penonton "teater" itu.
Para teroris bekerja penuh rahasia, sarat selubung, menggunakan seribu wajah dibelakang ruang publik untuk menciptakan efek-efek diruang publik pula. Oleh karena itu, teror tak pernah diketahui siapa pelaku sejatinya. Teror adalah teror, teror bisa menakutkan siapa saja, tak peduli sekuat apapun dan sebesar apapun supremasinya.
TEROR VERSUS TEROR. SIAPA MENEROR SIAPA. ITULAH YANG PATUT DIRENUNGKAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah memberikan komentar